Pada hari Rabu, 16 Januari 2019 kami kedatangan tamu dari KNRP Pusat dan 3 orang delegasi  dari Gaza Palestina, yaitu :

  1. Syaikh Dr. Majdi Abdelrazaaq Albaba (Abu Muhammad), beliau seorang staff kementrian kesehatan di Gaza, saat ini beliau sebagai Kepala Komite korban luka-luka peserta aksi Great Return March bagian Rafah/Gaza Selatan.
  2. Syaikh Ismail Ibrahim Althawabta (Abu Suhaib), beliau seorang jurnalis dan aktivis gaza, saat ini beliau sebagai Kepala Komite korban luka-luka aksi Great Return March bagian Gaza Tengah.
  3. Syaikh Hussam Mahmoud Alramlawi (Abu Mahmud), beliau seorang kepala staff Parlemen di Gaza, saat ini beliau sebagai Kepala Komite korban luka-luka peserta aksi Great Return March bagian Gaza Utara.

Dalam pertemuan tersebut kami melakukan sharing dan koordinasi mengenai krisis kemanusiaan di Gaza yang semakin memprihatinkan, terutama saat ini banyak korban luka akibat aksi represif tentara Israel kepada para peserta aksi damai Great Return March.

Aksi Great Return March (Aksi Kepulangan Masal) adalah Aksi damai rakyat Gaza untuk menentang blokade yang dilakukan oleh Israel, blokade Israel sudah berlangsung selama 12 tahun. Gaza seakan penjara terbesar di dunia saat ini. Aksi ini dimulai pada bulan Maret 2017 dan terus dilakukan sampai saat ini. Setiap hari Jum’at warga gaza keluar ke titik-titik perbatasan dengan damai tanpa senjata. Pria, wanita, anak-anak, orang tua bersatu dalam aksi ini.

Namun, aksi damai ini dibalas oleh tentara-tentara Israel dengan represif, dengan tembakan-tembakan peluru tajam, tembakan-tembakan gas beracun, bahkan tembakan-tembakan dari Tank-tank mereka. Sehingga banyak peserta aksi damai ini yang terluka bahkan syahid. Tak pandang bulu, yang jadi korban kebrutalan tentara Israel adalah anak-anak, perempuan, wartawan, tenaga medis, dll.

Saat ini ada sebanyak 26.000 orang korban luka-luka, 4.000 orang diantaranya adalah anak-anak. dengan berbagai macam luka diantaranya ada yang kakinya diamputasi, matanya buta, kelainan syaraf akibat gas dari tentara Israel dan luka-luka mengerikan lainnya yang saat ini banyak diantara korban luka-luka tersebut belum bisa dirawat dan diobati secara maksimal karena keterbatasan finansial dan keterbatasan fasilitas medis di Gaza. Yang sangat disayangkan adalah Media seolah bungkam.

Dalam pertemuan tersebut kami dari MPA diwakili oleh Ustadz Imam Hambali, menyampaikan kepada para delegasi tersebut komitmen kami untuk membantu dengan semaksimal mungkin untuk para korban luka-luka ini dengan  donasi terbaik dari masyarakat Indonesia dan tentunya kami akan do’akan terus saudara-saudara kami di Palestina sampai Palestina merdeka.