Salah satu tokoh pembebasan Al-Quds, Shalahuddin Al-Ayyubi, di tahun 1187 Masehi, akan menjadi topik edisi ensiklopedia pekan ini. Palestine Update akan sedikit berbagi, bagaimana karakter dari tokoh menginspirasi tersebut hingga mampu membebaskan Al-Quds.

Berdasarkan Ensklopedia Palestina Bergambar karya Dr. Thariq As-Suwaidan, Shalahuddin lahir pada tahun 1138 M (530 Hijriah) di benteng Tikrit, Irak. Ketika itu, ayahnya merupakan seorang walikota benteng Tikrit, kemudian menjabat di kementerian Mesir saat putranya masih kecil. Shalahuddin juga lulusan dari sekolah pembaruan, perguruan di mana Nuruddin dan Imaduddin Zanki juga pernah belajar di sana.

Dirinya menganut akidah yang baik, banyak berzikir, rajin salat berjamaah, gemar mengerjakan salat-salat sunah dan nafilah, rajin salat malam, suka mendengarkan bacaan Alquran, memilih imam salat untuk para jemaah, mencari orang yang bersuara merdu dan berakhlak baik, memiliki hati yang lembut, khusyuk, sering menangis, penuh dengan sifat penyayang dan lembut yang nampak secara jelas di dalam peperangan-peperangan yang dilakukan.

Ia suka menangis ketika mendengar bacaan Alquran, sangat gemar mendengar hadis, sangat mengagungkan syiar-syiar Allah, berbaik sangka dan begitu bersandar kepada Allah, baik dalam bergaul, adil dan menyayangi rakyat, mengasihi juga membela orang yang teraniaya dan orang lemah, mulia dan sangat terhormat, suci majlisnya,

Tutur katanya pun begitu baik, tidak memperkenankan siapa pun menyebut seseorang di hadapannya selain yang baik-baik saja, menolak ghibah (menggunjing) dan namimah (jimat), bersih pendengarannya (hanya mendengar yang baik-baik), bersih lisannya (hanya mengatakan yang baik-baik), juga bersih penanya (hanya menulis yang baik-baik).

Idealisme Orang-orang Besar

Di waktu yang bersamaan, Shalahuddin merupakan sosok pemberani yang sangat tangguh, rutin berjihad, dan memiliki idealisme tinggi. Satu waktu, ketika berada di dekat Akka ia berkata, “Terlintas dalam jiwaku, setelah Allah menaklukkan sisa-sisa kawasan pesisir untuk kita, aku ingin membersihkan seluruh negeri dari kaum Nasrani, lalu setelah itu aku mengangkat wali-wali kota, lalu aku naik kapal menuju kepulauan-kepulauan Nasrani di Eropa untuk menaklukannya, sehingga aku tidak menyisakan seorang pun di bumi ini yang ingkar kepada Allah, atau aku mati.”

Shalahuddin memiliki idealisme yang besar dan tujuan mulia. Demi tujuan itu, ia harus meninggalkan keluarga, rumah, tanah air, dan menjalani kehidupan jihad. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di tenda-tenda.

Ia dikenal menyayangi orang-orang lemah, khususnya kaum wanita, anak-anak, dan orang tua. Setiap kali menaklukkan suatu kota, ia berhenti di depan pintu gerbang kota, dan mengecek musuh-musuhnya yang kalah dan menarik diri. Ketika ada orang fakir atau orang tua yang melintas, ia membantunya. Ketika ada wanita atau anak kecil yang melintas, ia mengasihi juga membantunya.

Raja yang Zuhud

Shalahuddin juga menjalani hidup zuhud dan sederhana di era penuh kemewahan dan perilaku boros, jauh dari kebesaran dan kedudukan seorang raja. Ia begitu murah hati, hingga tidak pernah menyakiti seorang pun karena akidah yang ia anut, selain orang yang memeranginya.

Dia membiarkan siapa pun menyembah sembahan-sembahan mereka tanpa adanya tekanan atau paksaan. Ia tidak suka perang atau pertumpahan darah, selain terhadap para pengkhianat dan mereka yang semena-mena. Ketika meraih kemenangan, Shalahuddin menyayangi dan membebaskan para tawanan. Itulah kepribadiannya, tidak seperti yang digambarkan di Eropa bahwa dirinya merupakan sosok yang kejam dan haus darah.

Itulah sedikit gambaran mengenai kepribadian yang dimiliki tokoh besar Islam tersebut. Semoga menambah pengetahuan kita semua dan kembali mengingatkan kita akan ikatan dengan Sang Maha Pencipta, bagaimana kualitas kepribadian seorang Shalahuddin Al-Ayyubi tak lain dan tak bukan merupakan hasil pembelajarannya di dalam Islam. Wallahu’alam bish shawwab. (kimikim/palestineupdate)